Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Teks Khutbah Jum'at - MERAWAT KESALEHAN SAAT SENDIRIAN

Download File Ms. Word : Download or Download

MERAWAT KESALEHAN SAAT SENDIRIAN


الحمد لله الذي أصلحَ الضمائرَ، ونقّى السرائرَ، فهدى القلبَ الحائرَ إلى طريقِ أولي البصائرِ، وأشهدُ أَنْ لا إلهَ إلا اللهُ وحدَه لا شريكَ له، وأشهدُ أن سيِّدَنا ونبينا محمداً عبدُ اللهِ ورسولُه، أنقى العالمينَ سريرةً وأزكاهم سيرةً، (وعلى آله وصحبِه ومَنْ سارَ على هديهِ إلى يومِ الدينِ.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Khutbah Pertama:

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala

Segala puji marilah kita panjatkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan kenikmatan kepada kita semua, sehingga kita mampu melangkahkan kaki kita menuju masjid untuk beribadah kepada Allah. Shalawat dan salam marilah kita curahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah menuntun kita menuju jalan kebenaran.

Para jamaah Shalat Jumat yang dimuliakan Allah SWT.
Merasa diawasi oleh Allah SWT merupakan tema khutbah Jumat kita kali ini.
Dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW mengisahkan ada tiga orang pada zaman dahulu kala yang terperangkap di dalam gua. Mereka terjebak di dalam gua dan tidak bisa keluar. Kemudian mereka berdoa kepada Allah SWT dengan wasilah amal saleh yang mereka lakukan agar batu yang menutup gua bergeser.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah SWT.

Orang yang pertama mengatakan, “Ya Allah. Saya mempunyai dua orang tua yang sudah tua serta lanjut usianya dan saya tidak pernah memberi minum kepada siapa pun sebelum keduanya itu, baik kepada keluarga ataupun hamba sahaya. Kemudian pada suatu hari amat jauhlah saya mencari kayu – yang dimaksud daun-daunan untuk makanan ternak. Saya belum lagi pulang pada kedua orang tua itu sampai mereka tertidur.

Selanjutnya saya pun terus memerah minuman untuk keduanya itu dan keduanya saya temui telah tidur. Saya enggan untuk membangunkan mereka ataupun memberikan minuman kepada seseorang sebelum keduanya, baik pada keluarga atau hamba sahaya. Seterusnya saya tetap dalam keadaan menantikan bangun mereka itu terus-menerus dan gelas itu tetap pula di tangan saya, sehingga fajar pun menyingsinglah, Anak-anak kecil sama menangis karena kelaparan dan mereka ini ada di dekat kedua kaki saya.

Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka minum minumannya. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan keridhaan-Mu, maka lapanglah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutup ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka sedikit, tetapi mereka belum lagi dapat keluar dari gua.

Yang lain berkata, “Ya Allah, sesungguhnya saya mempunyai seorang sepupu wanita yang merupakan orang yang tercinta bagiku dari sekalian manusia – dalam sebuah riwayat disebutkan: Saya mencintainya sebagai kecintaan orang lelaki yang amat sangat kepada wanita – kemudian saya menginginkan dirinya, tetapi ia menolak kehendakku itu, sehingga pada suatu tahun ia memperoleh kesukaran. lapun mendatangi tempatku, lalu saya memberikan seratus dua puluh dinar padanya dengan syarat ia bersedia menyendiri antara tubuhnya dan tubuhku -maksudnya rela disetubuhi. Ia berjanji sedemikian itu.

Setelah saya dapat menguasai dirinya – dalam sebuah riwayat lain disebutkan: Setelah saya dapat duduk di antara kedua kakinya – sepupuku itu lalu berkata, ‘Takutlah engkau kepada Allah dan jangan membuka cincin – maksudnya cincin di sini adalah kemaluan, maka maksudnya ialah jangan melenyapkan kegadisanku ini -melainkan dengan haknya – yakni dengan perkawinan yang sah.’ Saya pun meninggalkannya, sedangkan ia adalah yang amat tercinta bagiku dari seluruh manusia dan emas yang saya berikan itu saya biarkan dimilikinya.

Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian dengan niat untuk mengharapkan keridhaan-Mu, maka lapangkanlah kesukaran yang sedang kami hadapi ini.” Batu besar itu kemudian terbuka sedikit lagi, tetapi mereka masih juga belum dapat keluar dari gua tersebut.

Orang yang ketiga lalu berkata: “Ya Allah, saya mengupah beberapa kaum buruh dan semuanya telah kuberikan upahnya masing-masing, kecuali seorang lelaki. Ia meninggalkan upahnya dan terus pergi. Upahnya itu saya perkembangkan sehingga bertambah banyaklah hartanya tadi. Sesudah beberapa waktu, pada suatu hari ia mendatangi saya, kemudian berkata: Hai hamba Allah, tunaikanlah sekarang upahku yang dulu itu.

Saya berkata: Semua yang engkau lihat ini adalah berasal dari hasil upahmu itu, baik yang berupa unta, lembu dan kambing dan juga hamba sahaya. Ia berkata: Hai hamba Allah, janganlah engkau memperolok-olokkan aku. Saya menjawab: Saya tidak memperolok-olokkan engkau. Kemudian orang itu pun mengambil segala yang dimilikinya. Semua diambilnya dan tidak seekor pun yang ditinggalkan. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian ini dengan niat mengharapkan keridhaan-Mu, maka lapangkanlah kami dari kesukaran yang sedang kami hadapi ini.” Batu besar itu lalu terbuka sedikit lagi dan mereka pun keluar dari gua itu. Kisah ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT.

Bertabur faedah dan hikmah dalam kisah ini, banyak sudut pandang yang dapat kita ambil pelajaran. Tiga orang ini memiliki unggulan amal yang berbeda-beda, akan tetapi ada kesamaan dari sisi pendorong amal. Mereka bisa melakukan hal-hal yang luar biasa, baik dari aspek menjalankan ketaatan maupun menghindari kemaksiatan kepada Allah SWT. Faktor pendorong dari semua itu adalah hadirnya perasaan bahwasanya mereka berada dalam pengawasan Allah SWT.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Pada kasus orang yang pertama, tampak jelas rasa diawasi oleh Allah SWT yang menyebabkan ia bersemangat dalam kebaikan; tegar dalam ketaatan. Ia tahu bahwa apa yang dilakukan tak luput dari penglihatan Allah dan tak luput dari penilaian Dzat yang memiliki hari pembalasan
Allah SWT berfirman:

الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

“Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.” (Asy-Syuara: 218-219)

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT.
Alangkah indah kisah seorang tabiin, yaitu Rabi’ bin Husain ketika ia memberikan roti istimewa kepada seorang pengemis tua. Dari cara makan, pengemis itu terlihat kurang akalnya. Ketika anaknya berkata, “Semoga Allah merahmatimu ayah, karena ibu sudah membuatkan roti ini untuk ayah. Kami sangat berharap agar ayah sudi menyantap dan menikmatinya, namun tiba-tiba ayah memberikan roti ini kepada pengemis yang linglung dan tidak tahu apa yang ia makan.”

Dengan penuh keyakinan sang ayah menjawab, “Wahai putraku, jika pengemis itu tidak tahu, maka sesungguhnya Allah Mahatahu.”

Begitulah kebaikan serasa mudah dilakukan ketika seseorang menyadari dirinya selalu dalam pengawasan dan selalu disaksikan oleh Allah SWT

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah SWT.

Adapun orang yang kedua, ia hampir saja terjerumus ke dalam zina dengan kekayaannya. Tidak ada seorang pun yang melihatnya saat berada di puncak nafsu. Hanya saja satu yang membuatnya berhenti melakukannya adalah ketika dia diingatkan pengawasan Allah atasnya.

Begitu hebatnya keyakinan selalu diawasi oleh Allah itu untuk menghentikan laju syahwat yang ingin menerjang aturan.

Suatu ketika Umair At-Tawir berkata kepada Sulaiman bin Ali, “Nasihatilah diriku.” Lalu Sulaiman memberikan nasehat yang sangat indah:

“Jika kamu bermaksiat seorang diri padahal kamu tahu bahwasanya Allah melihatmu maka kamu telah melakukan kecerobohan besar! Akan tetapi, jika kamu tidak percaya bahwa Allah melihat perbuatanmu, maka kamu jatuh pada kekafiran.”

Para jamaah sekalian, maknanya ketika seorang mukmin merasa diawasi oleh Allah meskipun dalam sendirian maka berat baginya untuk menuruti keinginannya dan sekali kali dia tidak akan nyaman dalam zona kemaksiatan. Ia tidak akan melakukan dosa besar terang-terangan di hadapan Allah SWT.

Ia juga tidak mau terjerumus pada kekafiran karena menganggap bahwasanya Allah tidak melihat apa yang ia lakukan seorang mukmin bisa nyaman melakukan dosa sementara Allah mengawasinya dengan sangat detail dan jeli dan tak tertandingi.
BACA JUGA  Khutbah Jumat: Tiada Kemuliaan Tanpa Islam

Jamaah Jumat yang mulia, jangan pula kita lebih takut kepada kamera CCTV daripada pengawasan Allah! Karena Allah meliputi apa yang tampak dan yang tersembunyi di dalam hati. Allah SWT berfirman :

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (Al-Mu’min: 19)
Jamaah Jumat yang mulia,

Orang terakhir di gua tersebut sangat dahsyat amalnya. Ia memiliki rasa diawasi oleh Allah tingkat tinggi daripada dua orang sebelumnya. Karena bukan hanya merasa gerak-gerik badanya yang diawasi oleh Allah SWT, tetapi juga gerak-gerik hatinya. Ia merasa niatnya diawasi oleh Allah, sehingga ia menjaga niatnya dengan mengembangkan gaji buruhnya tersebut bukan untuk kepentingan dirinya.

Ia memiliki keyakinan bahwa Allah Maha Melihat; Allah Maha Mengetahui hatinya sehingga gaji yang dia kembangkan semuanya dikasihkan kepada sang buruh tersebut.

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan tentang riwayat ini bahwa amalan yang paling bermanfaat di antara ketiga orang tersebut untuk menyelamatkan mereka keluar dari gua adalah amalan orang ketiga yang sangat amanah karena dengan doanyalah pintu gua akhirnya terbuka.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ, اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمِّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛ عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah SWT
Pelajaran dari khotbah pertama tadi, bahwa amal yang baik bisa menjadi wasilah untuk doa mustajab. Untuk itu, ikhlaskanlah setiap amal dan selalu merasa dalam pengawasan-Nya. Semoga ini menjadi renungan bagi kita semua, sehingga kita bertambah dekat kepada Allah SWT, lebih takut kepada-Nya daripada pengawasan CCTV atau manusia.

Tanamkanlah rasa selalu diawasi oleh Allah SWT meskipun kita sendirian; meskipun tidak ada orang yang melihatnya. Ingatlah, sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kita lakukan apa yang kita dengar bahkan apa yang kita niatkan di dalam diri kita. Marilah kita tutup khutbah ini kepada Allah SWT.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعاً مَرْحُوْماً، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقاً مَعْصُوْماً، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْماً.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَاناً صَادِقاً ذَاكِراً، وَقَلْباً خَاشِعاً مُنِيْباً، وَعَمَلاً صَالِحاً زَاكِياً، وَعِلْماً نَافِعاً رَافِعاً، وَإِيْمَاناً رَاسِخاً ثَابِتاً، وَيَقِيْناً صَادِقاً خَالِصاً، وَرِزْقاً حَلاَلاً طَيِّباً وَاسِعاً، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجمع كلمتهم عَلَى الحق، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظالمين، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعَبادك أجمعين.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ.
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ :
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Naskah ditranskrip oleh Qari’, dari khotbah Ust. Jayyad Al Faza, S.PdI.

Editor: Salem

Post a Comment for "Teks Khutbah Jum'at - MERAWAT KESALEHAN SAAT SENDIRIAN"