Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Budidaya Kacang Hijau

     Tanaman Kacang hijau akan tumbuh dengan baik dan memberikan hasil panen yang tinggi jika ditanam di lingkungan yang cocok dengan hidupnya. Faktor lingkungan (Iklim dan tanah) berpengaruh terhadap produktivitas tanaman (pertumbuhan dan hasil panen). Keadaan lingkungan (Iklim dan tanah) yang cocok untuk berusaha tani kacang hijau adalah sebagai berikut:

Budidaya Kacang Hijau

SYARAT TUMBUH KACANG HIJAU

A. Keadaan Iklim

Iklim secara langsung berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman dan hasil panen. Iklim juga berpengaruh terhadap perkembangan mikroba (patogen) dan hama yang mengganggu pertumbuhan tanaman.

1. Suhu dan Kelembaban

Suhu udara yang cocok untuk pertumbuhan tanaman kacang hijau berkisar antara 25 C - 27 C. Akan tetapi, tanaman kacang hijau masih bisa tumbuh baik pada suhu udara hingga 35 C dan di bawah 25 C hingga 20 C. Suhu yang terlalu tinggi maupun rendah akan menghambat perkecambahan dan pertumbuhan tanaman Selanjutnya. Suhu yang terlalu tinggi (di atas 40 C) dapat mematikan bibit. Sedangkan pada suhu yang sesuai, bibit akan tumbuh cepat. 

Kelembaban sangat berpengaruh untuk perkecambahan dan pertumbuhan bibit yang baik. Pada tanah yang cukup lembap, perkecambahan benih dan pertumbuhan bibit akan sangat bagus. Akan tetapi bila tanah terlalu lembap, maka perkecambahan dan pertumbuhan bibit akan terhambat, bahkan bibit bisa mati. Pada tanah yang kering, perkecambahan benih dan pertumbuhan bibit juga kurang bagus. Karena di tanah yang kering akar tidak bisa berkembang dengan baik dan tidak bisa menyerap unsur hara dengan baik. Kelembaban yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman kacang hijau adalah 50%-80%.

Dengan kondisi suhu udara dan kelembaban udara yang sesuai, maka tanaman dapat melakukan fotosintesis dengan baik untuk pembentukan karbohidrat dalam jumlah yang besar. Sehingga dengan demikian sumber energi tersedia cukup untuk proses pernafasan dan pertumbuhan tanaman, seperti pembentukan batang, cabang, daun, bunga, buah (polong), dan pembentukan sel-sel baru lainnya.

2. Curah Hujan

Tanaman kacang hijau dapat tumbuh dengan baik dan produksinya tinggi memerlukan curah hujan berkisar antara 600-2.400 mm/tahun atau curah hujan selama musim tanam berkisar antara 50-200 mm/bulan. Curah hujan yang kurang, bila tidak disertai dengan pengairan yang cukup pada fase perkecambahan dapat menyebabkan benih gagal tumbuh, karena air merupakan kebutuhan benih yang pertama untuk berkecambah. Demikian pula pada fase pembuahan dan pengisian polong. Apabila tanaman tidak mendapatkan air yang cukup maka tanaman tidak dapat membentuk polong. Curah hujan yang terlalu tinggi, juga akan menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat, produksinya rendah, tanaman mudah rebah, dan tanaman mudah terserang penyakit.

3. Penyinaran Cahaya matahari

Cahaya matahari merupakan sumber energi yang diperlukan tanaman untuk proses fotosintesis. Fotosintesis tanaman dapat berjalan dengan baik apabila tanaman mendapatkan penyinaran cahaya matahari yang cukup. Bibit kacang hijau dapat tumbuh dengan baik, cepat dan sehat. Pada cuaca yang hangat di mana cahaya matahari terang dan penuh. Kekurangan cahaya matahari dapat menyebabkan bibit pucat, batang memanjang. kurus dan lemah. Untuk mendapatkan penyinaran cahaya matahari yang cukup. Lahan penanaman kacang hijau harus terbuka (tidak terlindungi oleh pepohonan).

B. Keadaan Tanah

Keadaan tanah berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman dan produksi polong (hasil panen). Adapun keadaan tanah yang perlu mendapat perhatian adalah sebagai berikut:

1. Sifat Fisik Tanah

Sifat fisik tanah yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman kacang hijau adalah tanah gembur dengan Struktur tanah lempung berdebu, dan kedalaman lapisan olah lebih 50 cm, sifat fisik tanah yang demikian Itu akan mudah mengikat air dan memiliki drainase yang baik. Tanaman kacang hijau juga masih dapat tumbuh dengan baik dan produksinya masih cukup baik pada tanah gembur yang bertekstur lempung berpasir dan liat berdebu. Sedangkan pada tanah yang bertekstur pasir, kerikil dan liat padat sudah kurang sesuai untuk pertanaman kacang hijau.

Tanah yang bertekstur lempung berdebu, lempung berpasir dan liat berdebu dapat dijumpai pada jenis tanah andosol, regosol dan latosol. Kondisi tanah yang gembur, mudah mengikat air, dan memiliki drainase (pembuangan air) yang baik akan memudahkan perkecambahan benih, memudahkan pertumbuhan dan perkembangan perakaran sehingga akan meningkatkan dan mempercepat pertumbuhan tanaman secara keseluruhan.

2. Sifat Kimia Tanah

Kemasaman tanah (pH tanah) yang sesuai untuk pertanaman kacang hijau adalah berkisar antara 5,8 - 6,5. Pada kisaran pH tanah 5,0 - 5,8, tanaman kacang hijau masih dapat tumbuh baik. Derajat keasaman tanah kurang dari 4,5 dan lebih besar dari 7,0, tanaman kacang hijau tidak dapat tumbuh dengan baik dan produksinya rendah. Pada tanah ber-pH di atas 7 tanaman tumbuh kurus, kerdil, dan menguning dan polong yang terbentuk kecil-kecil disebabkan karena tanaman kekurangan unsur hara besi (Fe). Pertumbuhan tanaman yang mengalam hambatan di tanah bersifat masam (pH kurang dari 5,0) dikarenakan adanya kandungan aluminium (Al) dan mangan dalam tanah yang tinggi yang dapat meracuni tanaman. Di samping itu, gagalnya pertumbuhan tanaman kacang hijau di tanah masam juga disebabkan karena tanaman tidak mampu membentuk bintil akar. Hal ini karena Rhizobium japonicum sangat peka terhadap kemasaman tanah dan rusaknya sistem perakaran karena kadar Al yang tinggi. Akan tetapi, pada tanah-tanah yang masam, produktivitasnya dapat ditingkatkan dengan pengapuran dan penggunaan deposit fosfat alam yang merupakan salah satu sumber phospat (fosfor). Dengan pengapuran akan meningkatkan pH tanah, ketersediaan hara dan memperbaiki serapan hara P, K, Ca, Mg, dan Mo oleh tanaman, serta menurunkan konsentrasi unsur- unsur yang bersifat racun bagi tanaman (Brady, 1974).

3. Sifat Biologis Tanah

Tanah yang mengandung bahan organik tanah tinggi sangat sesuai untuk pertanaman kacang hijau. Keadaan tanah dengan bahan organik tanah yang tinggi sampai sedang dapat meningkatkan proses nitrifikasi (organisme tanah dapat memproduksi amonia dan nitrat), menekan pertumbuhan patogen, melancarkan peredaran udara di dalam tanah, dan dapat meningkatkan peresapan air Sehingga dengan demikian akan meningkatkan perkecambahan benih dan pertumbuhan tanaman selanjutnya.

4. Ketinggian Tempat (Geografis Tanah)

Tanaman kacang hijau dapat ditanam di berbagai ketinggian tempat (dataran rendah, dataran medium, dan dataran tinggi). Namun, ketinggian tempat yang paling cocok untuk penanaman kacang hijau adalah di dataran rendah sampai ketinggian 500 m dpl. Ketinggian tempat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, produksi, dan umur panen. Penanaman kacang hijau di dataran tinggi lebih dari 750 m dpl umur panennya akan lebih panjang jika dibandingkan dengan yang di tanam di dataran rendah. Bertambah panjangnya umur panen tersebut disebabkan karena energi yang diterima di dataran tinggi lebih rendah dibandingkan di dataran rendah, sehingga pertumbuhan tanaman menjadi lamban. Di samping itu, keadaan suhu yang kurang sesuai di dataran tinggi juga merupakan faktor penghambat pertumbuhan tanaman. Di samping itu, produktivitasnya pun juga lebih rendah.

5. Kemiringan Tanah (Topografi Tanah)

Tanah yang datar sangat sesuai untuk penanaman kacang hijau jika dibandingkan dengan tanah yang miring. karena biaya pembukaan lahan dan pengolahan tanah lebih murah. Menurut Umi Haryati, dkk, 1993, pembukaan lahan yang memiliki kemiringan antara 10%-40% memerlukan tenaga kerja sebanyak 357-1.334 hari kerja setara pria (HKSP) per-hektar. Pembukaan lahan yang bertopografi miring harus dibuat teras-teras untuk bidang penanaman dan tanggul-tanggul untuk menahan tanah longsor.

Kacang Hijau cocok ditanam di lahan kering (tegalan). Namun, Kacang hijau dapat juga ditanam di lahan basah, seperti di lahan sawah, lahan pasang surut dan rawa yang bersifat masam (tanah sulfat asam), dan lahan sawah tadah hujan. Di dalam teknik budi daya kacang hijau, hal-hal yang perlu mendapat perhatian adalah pengadaan benih, persiapan lahan, penanaman benih, penyulaman, pengairan, pemupukan, penyiangan, dan pengendalian hama dan penyakit

TEKNIK BUDIDAYA KACANG HIJAU

A. Pengadaan Benih

Tanaman kacang hijau diperbanyak dengan biji. Sehingga dengan demikian, untuk bertanam kacang hijau diperlukan biji sebagai benih. Pengadaan benih kacang hijau dapat dilakukan melalui dua cara, yakni membeli benih yang siap tanam dan dengan cara mengadakan pembenihan sendiri.

Penggunaan benih varietas lokal maupun varietas unggul hasil panen sebelumnya sebaiknya dihindari karena benih ini memiliki kualitas yang rendah, sehingga apabila ditanam produksinya rendah, tanaman tidak tahan terhadap serangan penyakit, daya adaptasi terhadap lingkungan rendah. Karena benih tersebut sudah merupakan campuran dari beberapa strain atau varietas.

Untuk mendapatkan benih yang berkualitas baik, sebaiknya pengadaan benih dilakukan dengan cara membeli benih yang siap tanam. Karena benih dihasilkan dari penanganan yang sangat selektif di kebun pembenihan. Benih yang berkualitas baik yang diproduksi dari perusahaan pembenihan memiliki daya hasil tinggi, benih memiliki bentuk dan ukuran seragam, benih murni, dan mempunyai ketahanan terhadap serangan beberapa jenis hama dan penyakit, seperti penyakit karat, virus, dan hama lalat bibit. Penggunaan benih yang berkualitas sangat menunjang keberhasilan berusaha tani kacang hijau.

Pengadaan benih dengan cara membeli benih yang siap tanam, sebaiknya memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Benih telah disertifikasi, karena benih yang telah disertifikasi terjamin kualitasnya.
  2. Tanggal batas waktu penggunaan benih. Benih yang telah kadaluwarsa, persentase perkecambahan benih telah menurun.
  3. Benih dari varietas unggul.

Benih yang telah disertifikasi di tandai dengan label benih bersertifikat yang dikeluarkan oleh BPSBTPH. Label sertifikasi memuat keterangan nomor seri label, nama jenis tanaman dan varietas, nama dan alamat produsen, nomor kelompok, berat bersih per-wadah, persentase kadar air, kemurnian benih, kotoran dari varietas lain dan kotoran kotoran lain, daya tumbuh tanggal batas waktu penggunaan benih, dan cap dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSBTPH).

Selanjutnya benih yang bermutu memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Daya tumbuh lebih dari 80%.
  2. Kecepatan tumbuh kurang dari 4 hari.
  3. Benih murni, artinya tidak tercampur dengan varietas lain.
  4. Benih sehat dan utuh (tidak cacat).
  5. Benih tidak tercampur biji gulma.
  6. Benih bernas, berwarna mengilap, dan tidak keriput.

Pengadaan benih kacang hijau hendaknya juga memperhatikan kebutuhannya per-satuan luas lahan yang akan ditanami.


Kebutuhan benih per-satuan luas lahan tergantung pada jarak tanam, ukuran atau besarnya benih dari varietas yang akan ditanam, dan jumlah benih yang akan ditanam per-lubang tanam. Kebutuhan benih kacang hijau untuk penanaman seluas 1 hektar lahan menurut jarak tanam, besarnya benih dan jumlah benih per lubang tanam seperti pada tabel 3.

B. Teknik Budi Daya

Teknik budi daya kacang hijau dibedakan antara teknik budi daya di lahan sawah, di lahan sawah tadah hujan, di lahan kering, podsolik merah kuning dan di lahan pasang surut.

1. Teknik Budi Daya Kacang Hijau di Lahan Sawah

Teknik budi daya kacang hijau di lahan sawah beririgasi teknis adalah sebagai berikut:

a. Penyiapan Lahan

Penyiapan lahan untuk penanaman kacang hijau di lahan sawah irigasi teknis (bekas tanaman padi) cukup dengan membuat bedengan dan saluran irigasi dan drainase. Sehingga dengan demikian tidak perlu dilakukan pengolahan tanah. Sebab, tidak terdapat interaksi antara perlakuan pengolahan tanah dengan hasil panen. Hasil panen kacang hijau dari lahan yang diolah dan tanpa diolah tidak berbeda, demikian pula antara lahan yang diolah sempurna dan yang diolah tidak sempurna (Balittan, 1989). Adapun penyiapan lahan untuk penanaman kacang hijau di lahan sawah irigasi meliput kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

1) Pembuatan Bedengan dan Parit

Bedengan untuk penanaman kacang hijau berukuran lebar 4 m dan panjang bedengan menurut panjangnya petakan kebun. Namun, apabila petakan kebun sangat panjang sebaiknya panjang bedengan dibuat maksimal 8 m. Hal ini untuk memudahkan pembuangan air waktu hujan maupun pada saat mengairi. Bedengan membujur atau memanjang ke arah timur-barat agar cahaya matahari dapat diterima secara merata ke seluruh tanaman.

Parit-parit untuk saluran irigasi dibuat dengan ukuran lebar 40 cm. Lebar parit tersebut cukup ideal untuk mengairi bedengan dan untuk jalan. Lebar parit yang terlalu sempit dapat menyulitkan pengairan dan pemeliharaan tanaman (penyemprotan pestisida, penyemprotan pupuk daun, dan lain sebagainya). Sedangkan parit-parit untuk pembuangan air (saluran drainase) dibuat pada sekeliling petak bedengan dengan lebar berukuran 50 cm (lebih lebar dari parit irigasi). Sehingga dengan demikian pembuangan air akan lebih lancar dan dapat mencegah genangan air.

Kedalaman parit untuk saluran irigasi dibuat sedalam 30 cm. Ke dalam parit ini juga merupakan tinggi bedengan. Sedangkan kedalaman parit untuk saluran darinase dibuat sedalam 50 cm. Kedalaman parit irigasi dan parit drainase sangat berpengaruh terhadap kelancaran pengairan dan pembuangan air.

Keterangan:

a. Tinggi bedengan: 30 cm (lahan sawah beririgasi teknis), 50 cm (sawah tadah hujan), 40 cm (lahan kering/tegalan), 80 cm (lahan gambut).
b. Lebar bedengan 4 m.
c. Lebar parit: 40 cm (lahan sawah beririgasi teknis  0,50 cm (lahan sawah tadah hujan), 40 cm (lahan kering atau tegalan), 50 cm (lahan gambut).
d. Arah bedungan memanjang kearah Timur - Barat.




2) Pengapuran Tanah

Pengapuran tanah dilakukan bila keasaman tanah (pH tanah) kurang dari 5,8. Apabila tanahnya telah sesuai dengan syarat tumbuhnya tanaman kacang hijau (pH tanah 5,8-6,5), maka tidak perlu dilakukan pengapuran tanah.

Sebelum dilakukan pengapuran tanah, hendaknya dilakukan pengukuran pH tanah terlebih dahulu. Caranya adalah sebagai berikut:

  1. Tanah diambil secara acak dan merata pada petak kebun.
  2. Tanah yang telah diambil, kemudian dicampur hingga merata. Lalu, tanah diambil secukupnya Kira-kira satu cangkul.
  3. Tanah yang satu cangkul tersebut dimasukkan ke dalam ember yang berisi air, lalu dibiarkan sampai mengendap.
  4. Setelah tanah mengendap, air dipisahkan dari endapan tanah ke dalam ember yang lain.
  5. Selanjutnya, air tersebut diukur pH-nya dengan menggunakan kertas lakmus atau pH meter. Nilai pH menunjukkan derajat keasaman tanah.
  6. Setelah pH tanahnya diketahui dan nilainya kurang dari 5,8 maka segera dilakukan pengapuran tanah.

Pengukuran pH tanah selain menggunakan kertas lakmus dan atau pH meter, dapat juga dilakukan dengan menggunakan "pH tester' dan "soil tester. Cara penggunaan alat pengukur tersebut dengan ditancapkan Kedalam tanah sampai kedalaman tertentu, setelah 3 menit akan terlihat nilai pH tanah ditunjukkan oleh jarum Skala pada alat tersebut. Penggunaan alat pi tester dan sOil tester dijalankan dengan batere.

apur yang dapat digunakan untuk pengapuran tanah dapat berupa kapur tohor, kapur karbonat, atau kapur tembok. Kapur tohor juga dikenal dengan sebutan Kapur sirih. Sedangkan kapur karbonat dikenal ada dua macam yaitu kalsit dan dolomit. Kalsit atau kalsium karbonat (CaCo,) mengandung kalsium 44%, sedangkan dolomit (CaMg (Co.), mengandung magnesium 19,5% dan mengandung kalsium 30,5%. Kapur tembok juga dikenal dengan nama kapur hidroksida.

Pengapuran tanah dilakukan dengan cara kapur ditebar secara merata pada permukaan tanah, kemudian tanah dicangkul tipis-tipis agar kapur bercampur rata dengan tanah. Untuk menaikkan pH tanah sebesar 0,1 diperlukan kapur dolomit sekitar 312 Kg/ha. Pengapuran tanah dilakukan 2 minggu sebelum tanam. Sebab pengapuran tanah yang dilaKuKan secara langsung setelah penanaman dapat mematikan tanaman.

b. Inokulasi Rhizobium

Pada lahan yang belum pernah ditanami jenis tanaman kacang-kacangan, sebaiknya lahan tersebut terlebih dahulu diinokulasi Rhizobium, sebab, pada lanan yang baru pertama kali ditanami kacang-kacangan, bila tidak dinokulasi bakteri Rhizoblum umumnya hasil panen rendah. Inokulasi Rhizobium bertujuan untuk meningkatkan pembentukan bintik akar pada tanaman sehingga dengan demikian dapat meningkatkan hasil panen.

Inokulasi Rhizobium dapat dilakukan pada tanah atau pada benih. Indokulasi Rhizobium. pada tanah dilakukan sebagai berikut: ambil tanah yang berasal dari lahan pertanaman kacang-kacangan, lalu tanah tersebut ditaburkan ke lahan yang akan ditanami kacang hijau. Sedangkan inokulasi pada benih dilakukan dengan cara sebagai berikut: benih diinokulasi dengan inokulum multiguna Rhizoplus dengan takaran 150 g/50 kg benih. 

Cara melakukan inokulasi bakteri Rhizobium pada benih kacang hijau adalah sebagai berikut:

  • Benih dibasahi dengan air bersih hingga cukup basah.
  • Inokulum Rhizobium dicampurkan dengan benih kacang hijau hingga merata ditempat yang teduh, benih kacang hijau yang telah diinokulasi bakteri Rhizobium dikering anginkan beberapa saat, selesai dikering anginkan benih segera ditanam (tidak boleh ditunda lebih dari 6 jam).

c. Penanaman Benih

Benih atau biji kacang hijau dapat langsung ditanam di kebun tanpa melalui persemaian terlebih dahulu. Agar benih yang ditanam tumbuh baik, maka benih yang akan ditanam harus utuh (tidak cacat, luka, atau pecan), ukurannya seragam, tidak terserang hama maupun penyakit, tidak tercampur dengan varietas lain, tidak Keiput, dan bentuknya normal. Selain itu, penanaman Denin kacang hijau juga harus memperhatikan pemilinarn waktu tanam, jarak tanam, dan cara penanala

1) Pemilihan Waktu Tanam

Tanaman kacang hijau tidak dapat tumbuh dengan Daik pada kondisi tanah becek atau tergenang air secare  enerus dalam jangka waktu lama. Curah nujan yang terlalu tinggi pada awal pertumbuhan mengakibatkan teinaman tumbuh kerdil dan curah hujan yang ui9ad Saat tanaman menjelang panen akan membusukkan polong dan biji-biji. Waktu yang tepat untuk penanaman Kacang hijau di lahan sawah beririgasi teknis bekas padl dilakukan bulan April-Mei dan atau bulan Juli-Agustus.

Pemilihan waktu tanam kacang hijau yang tepat tersebut juga berkaitan dengan waktu rotasi tanam dengan tanaman padi, yakni kacang hijau ditanam setelah dua musim tanam padi.

2) Jarak Tanam

Jumlah populasi tanaman per-satuan luas lahan berpengaruh terhadap hasil panen. Dengan jumlah populasi tanaman yang optimal diharapkan dapat diperoleh hasil panen yang tinggi. Jumlah populasi tanaman per satuan luas lahan berkaitan dengan jarak tanam yang ditetapkan.

Jarak tanam yang dianjurkan untuk pertanaman kacang hijau sangat bervariasi, yakni 40 cm x 15 cm atau 50 cm x 10 cm (jarak tanam agak renggang sampai dengan renggang), 20 cm x 20 cm (jarak tanam rapat). Jumlan tanaman untuk areal tanah seluas 1 hektar pada jarak tanam 40 cm x 15 cm, 50 cm x 10 cm, 20 cmx 20 cm adalah 333.332 populasi tanaman, 400.000 populasi tanaman, 500.000 populasi tanaman.

Penetapan jarak tanam pada lahan tanam dilakukan dengan menggunakan tali rafia yang telah diberi tanda sesuai dengan jarak tanam yang telah ditentukan. Kemudian tali rafia dipancang pada bagian tepi bedengan.

Keterangan:

a. Jarak tanaman atau barisan tanaman 20 cm, 40 cm atau 50 cm (untuk penanaman di lahan sawah beririgasi teknis, lahan kering/tegalan, dan lahan sawah tadah hujan), dan 30 cm (untuk penanaman di lahan pasang surut sulfat masam).

b. Jarak tanam dalam barisan tanaman 2 cm, 1,5 cm atau 10 cm (untuk penanaman di lahan sawah tadah hujan), dan 10 cm (untuk penanaman di lahan pasang surut sulfat masam).

3) Cara Penanaman

Penanaman benih kacang hijau di kebun dapat dilakukan dengan cara tugal, dan atau mesin penanam. Penanaman benih kacang hijau dengan cara tugal adalah sebagai berikut: dengan menggunakan alat tugal, tanah dilubangi sedalam 3-5 cm. Lubang tanam dibuat tepat pada titik-titik tanam yang telah ditetapkan sesuai dengan jarak tanamnya. Selanjutnya benih dimasukkan ke dalam lubang tanam dan setiap lubang tanam diisi 4 biji, kemudian lubang ditutup dengan tanah. Bila benih telah tumbuh, kemudian diperjarang menjadi 3 tanaman per lubang. Setelah benih ditanam, kemudian diairi (disiram air) sampai merata. Pada lahan seluas 1 hektar, penanaman dengan cara tugal diperlukan tenaga kerja 8-10 HKSP. Tugal adalah alat pelubang tanam yang terbuat dari kayu berukuran panjang1,5 m dengan diameter 5 cm dan bagian ujungnya sepanjang 4 cm diruncingin.


Penanaman benih kacang hijau dengan mesin penanam dapat lebih cepat dan efisien, karena dengan tenaga kerja 1 orang selama 1 hari (1 HKSP) dapat menyelesaikan penanaman 30-4 hektar. Efisiensi penggunaan mesin penanam dapat dicapai bila areal yang akan ditanami sangat luas (minimal 100 ha), lahan datar, tanah tidak berbatu-batu dan tidak bertunggul kayu, tersedia tenaga teknis yang cakap dalam mengelola dan merawat mesin penanam, dan harga komoditas yang cukup baik. Sehingga dengan demikian, cara penanaman kacang hijau dengan mesin penanam hanya bisa diterapkan pada usana tani Kacang hijau yang berskala besar.

Kedalaman tanam sangat berpengaruh terhadap perkecambahan benih. Bila benih ditanam terlalu dangkal maka benih tidak dapat berkecambah. Sedangkan anahila benih ditanam terlalu dalam leoin dan 5 cm, maka benih dapat menjadi busuk atau kalaupun berkecambah, maka bibit tidak dapat muncul di atas permukaan tanah sehingga akhirnya bibit akan membusuk di dalam tanah.

d. Desinfektan Benih

Untuk mencegah benih yang telah ditanam diserang hama, misalnya semut, rayap, dan lain sebagainya, maka setelah benih ditanam, sebaiknya juga diberikan furadan pad ada lubang tanam atau di sekita lubang tanam. Furadan diberikan bersamaan pada saat tanam dengan dosis 8 kg/ha yang disebarkan secara merata di permukaan tanah atau 0,50 g setiap lubang tanam. 

e. Pemberian Mulsa.

Pemberian mulsa berupa jerami padi kering sebanyak 5 ton/ha dapat meningkatkan hasil hingga 40% jika dibandingkan dengan pertanaman Kacang Hijau yang tidak diberi mulsa (Balittan Pangan, 1991).

Pemberian mulsa jerami padi pada pertanaman kacang hijau dapat meningkatkan laju tumbuh relatif dan produksi polong sebagai akibat dari penekanan pertumbuhan gulma, serangan lalat bibit, penguapan air tanah, serta memperlambat proses pengerasan dan peretakan tanah.

Pemberian mulsa berupa jerami padi kering dilakukan setelah benih kacang hijau ditanam dengan cara jerami dihamparkan hingga merata setebal 3-5 cm di permukaan lahan.

f. Penyulaman

Penyulaman pada usaha tani kacang hijau adalan erupakan kegiatan mengganti benih yang mat (udak oun). Penyulaman benih (bij) pada tanaman hdcang nau hanya dilakukan satu kali saja, yaitu dilakukan 4-15 Selelah tanam. Penyulaman ini hanya dilakukan Dia benih yang tidak tumbuh berkisar antara 10%-25 Apabila benih yang tidak tumbuh sampai melebihi 40% maka sebaiknya semua diganti. Kemudian penyiapan lahan dan seleksi benih dikerjakan yang lebih baik lagi Penyulaman benih dilakukan sebagai berikut: benih yang mati diambil, kemudian dibuat lubang tanam lagi ditempat tersebut, lubang tanam dibersihkan dan bila perlu diberi Furadan 0,5 g, misalnya apabila terlihat banyak semut, rayap, dan serangga lain di lubang tanam tersebut. Setelah itu, benih yang baru dimasukkan pada lubang tanam tersebut sebanyak 4 biji, lalu lubang tanam ditutup tanah dan mulsa jerami. Selesai penanaman benih segera dilakukan penyiraman. Penyulaman sebaiknya dilakukan pada sore hari.

g. Penyiraman

Air Sangat diperlukan untuk proses metabolisme dan pertumbuhan tanaman. Kerusakan akibat kekeringan adalah daun-daun cepat tua dan mudah rontok, dan tanaman tumbuh kerdil. Kekurangan air pada fase generatif (saat berbunga, pembentukan polong, dan pengisian polong) akan mengakibatkan inisiasi bunga dan jumlah bunga yang terbentuk sedikit, dan selanjutnya persarian terganggu karena mengeringnya tepungsari dan putik. Sehingga dengan demikian tanaman gagal melakukan pembentukan polong dan pengisian polonq. Akibatnya produksi sangat rendan atau Dankan bisa terjadi gagal panen. Kekurangan air pada lase perkecambahan menyebabkan benih tidak dapat berkecambah Di samping itu, kekurangan di juga menyebabkan perkembangan akar dan bintil-bintil akar terhamb mbat.

Air yang berlebihan juga akan menurunkan artumbuhan tanaman dan hasil panen. Tanaman kacang hijau yang tergenang air dalam jangka waktu lama, menyebabkan tanaman tidak dapat menyerap air sehingga terjadi kekurangan air pada daun. Dalam keadaan parah, tanaman menjadi kurang mampu menyerap zat hara, Datang menebal, terbentuknya kalus pada akar, daun cepat menua (senesen), daun-daun rontok dimulai dari daun bagian bawah. Di samping itu, genangan air yang berkepanjangan akan meningkatkan kadar karbondioksida (CO,), sulfida, etilen, asam organik besi, dan mangan dalam bentuk tereduksi, sedangkan kandungan oksigen di dalam tanah sangat sedikit. Keadaan ini akan sangat membahayakan kehidupan tanaman. Gejala yang tampak akibat air yang berlebihan pada pertanaman kacang hijau adalah timbulnya bercak kuning pada daun atau daun menjadi hijau muda, kuning, atau bahkan putih (gejala klorosis). Air yang berlebihan pada fase pertumbuhan dapat menggagalkan benih berkecambah. Kelebihan air pada fase generatif akan menyebabkan pembentukan polong terhambat dan polong banyak yang gugur. Sehingga dengan demikian tanaman kacang hijau sangat peka terhadap Kekeningan dan kelebihan air.

Untuk memperoleh pertumbuhan tanaman kacang hijau yang baik dan produksinya tinggi diperlukan air dalam jumlah yang Cukup. Untuk perkecambahan biji diperlukan kelembaban tanah sekitar 50%.

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan air sangat diperlukan selama masa perkecambahan, awal pertumbuhan bibit, pembangunan, pembentukan polong hingga pengisian polong. Kekurangan air pada tase-fase kritis tersebut akan menurunkan hasil panen.

Cara pemberian air pengairan pada lahan sawah beririgasi teknis dapat dilakukan dengan menggunakan SIstem 1eb, yaitu menggenangi kebun melalui parit-parit di antara bedengan. Air disalurkan melalui jaringan irigasi, lalu dibiarkan menggenang beberapa saat (15-30 menit) sampai bedengan tampak cukup basah (dalam kondisi kapasitas lapang). Apabila air yang diberikan sudah cukup, air segera dikeluarkan dari kebun melalui saluran pembuangan air (selokan drainase).

Tanaman kacang hijau sudah bisa dikatakan mulai menderita kekeringan bila tanah sedalam 5-10 cm telah kering. Pada kondisi tersebut, pertanaman kacang hijau harus segera diairi. Apabila tidak ada hujan, pengairan dapat dilakukan dengan selang waktu 10 hari sekali. Penyiraman harus dihentikan seminggu menjelang polong dipanen karena pada kondisi tersebut tanaman sudah tidak memerlukan air lagi.

h. Pemupukan

Pemupukan tanaman kacang hijau yang ditanam di lahan sawah bekas padi umumnya kurang responsif, karena pada lahan bekas padi sawah telah terus menerus dipupuk NPK. Dari beberapa hasil pemelitian melaporkan bahwa pemberian pupuk NPK pada tanaman kacang hijau di lahan sawah yang padinya telah mendapat pupuk NPK tidak menunjukkan peningkatan hasil pada kacang hijau. Akan tetapi, walaupun belum diperoleh data yang mantap tentang manfaat pemberian pupuk NPK untuk tanaman kacang hijau di lahan sawah bekas tanaman padi, namun telah disusun dosis anjuran pupuk NPK bagi tanaman kacang hijau pada lahan sawah yang secara teruus menerus padinya telah dipupuk NPK adalah berkisar antara bu Kg urea/ha, 125 kg SP-36/ha, dan 50 kgKcl/ha (Balittan Pangan, 1993). Pemberian pupuk NPK ini bersifat hanya untuk memberikan jaminan ketersediaan hara bagi tanaman kacang hijau agar tetap diperoleh hasil yang maksimal.

Pemberian pupuk phospat (P) sangat penting untuk pertumbuhan akar, bintil akar, dan pembungaan. Pemberian pupuk kalium (K) sangat penting untuk pertumbuhan tanaman, pembentukan polong dan biji. Dan pembelian pupuk Nitrogen (N) sangat penting untuk pertumbuhan vegetatif tanaman, seperti pembentukan Datang, cabang alau ranting, dan daun. Pemberian pupuk NPK yang berlebihan maupun kekurangan berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan tanaman dan hasil panen.

Pemupukan NPK selain dilakukan melalui tanah sebaiknya juga dilakukan melalui daun. Beberapa keuntungan pemupukan melalui daun, antara lain adalah menghindari terjadi kompetisi pengambilan unsur hara dalam tanah, menghindari kerusakan tanah akibat pemupukan melalui tanah yang terlalu berat, tidak ada unsur hara yang terbuang, efisiensi penggunaan pupuk sangat tinggi karena diberikan langsung ke tempat metabolisme, merangsang kegiatan jasad mikro berguna yang menghuni daun, tidak mencemari lingkungan, tidak mematikan musuh alami pengganggu tumbuh tanaman, dapat dicampur pestisida tanpa kehilangan khasiatnya, tanaman tumbuh cepat, perakaran tumbuh lebat dan kuat, ierangsang tanaman cepat berbunga dan berbuan, dan lain sebagainya.

Pupuk urea, SP-36, dan Kcl diberikan 1 hari sebelum tanam atau diberikan bersamaan pada saat tanam, dan pupuk diberikan sekaligus. Pemberian pupuk urea, SP-36, dan Kcl dapat juga diberikan secara bertahap sebagai berikut:

  • Pemupukan Pertama diberikan 1 hari sebelum tanam atau pada saat tanam terdiri atas setengah dosis urea ditambah seluruh dosis SP-36 ditambah setengah dosis Kcl.
  • Pemupukan Kedua diberikan 30 hari setelah tanam terdiri atas setengah dosis urea ditambah setengah dosis Kcl.

Femberian pupuk urea, SP-36, dan hdl melalui tanah dilakukan dengan cara disebar secara merata pada petakan atau bedengan. Kemudian tanah diolah secara ringan (dicangkul tipis-tipis). Sedangkan pemberian pupuk daun yang dilakukan lewat daun, caranya adalah sebagai berikut: pupuk daun diencerkan terlebih dahulu dengan air sesuai dosis yang tercantum pada label kemasan menurut fase pertumbuhan tanaman dan merk pupuk daun yang digunakan. Selanjutnya, larutan pupuk daun yang telah diencerkan dengan penambahan air disemprotkan pada daun tanaman. Penyemprotan harus dilakukan dipermukaan daun bagian bawah, karena pada tempat tersebut stomata berada. Apabila disemprotkan di permukaan daun sebelah atas maka pupuk daun tidak akan atau Sulit diserap daun sehingga pemupukan lewal daun akan gagal. Penyemprotan pupuk daun dapa dilakukan kapan saja (pagi, Siang, atau sore) selama tidak ada angin dan diperKIrakan tidak akan jatuh hujan 2-3 jam setelah penyemprotan. Penyemprotan pupuk daun tidak efektif bila ada angin kencang dan ada hujan sebelum 2-3 jam penyemprotan.

i. Penyiangan

Gulma dan rerumputan merupakan tanaman pengganggu yang sangat merugikan bagi tanaman kacang hijau. Tanaman kacang hijau kurang mampu bersaing dengan gulma dan rumput, sehingga apabila gulma dan rumput tidak dikendalikan dapat menurunkan hasil panen kacang hijau mencapai 60% (Balittan Malang, 1993). Oleh karena itu, pengendalian gulma dan rumput harus dilakukan dengan baik.

Pada budi daya kacang hijau tanpa menggunakan mulsa jerami, pengendalian gulma dan rumput dapat dilakukan ketika tanaman berumur 2 minggu dan 30 hari. Apabila gulma dan rumput tumbuh banyak, penyiangan dapat dilakukan lebih sering. Pada budi daya kacang hijau dengan menggunakan mulsa jerami, penyiangan cukup dilakukan satu kali saja pada saat tanaman menjelang berbunga. Karena pemberian mulsa jerami dapat menekan pertumbuhan gulma sekitar 61%. Tanaman kacang hijau dapat tumbuh baik dan produksinya tinggi apabila tanaman terbebas darn guiia Semenjak umur 1-40 hari.

Fengendalian gulma dan rumput dapat dllaKUKan dengan beberapa cara, yaitu:

  1. Secara manual, yakni gulma dan rumput yang tumbuh di sekitar tanaman dicabuti dengan tangan atau dibantu dengan alat pencungkil (kored) sedangkan gulma dan rumput diselokan (parit-parit) dilakukan dengan menggunakan cangkul.
  2. Secara mekanik, yakni pencabutan gulma dan rumput dilakukan dengan menggunakan peralatan mesin darn yang sederhana sampai yang modern. Salah satu alat mekanik penyiang rumput (gulma) yang sederhana adalah alat penyiang lahan kering (cono weeder).
  3. Secara kimiawi, yakni pengendalian gulma dan rumput dilakukan dengan menggunakan obat-obatan pembunuh rumput dan gulma (herbisida). Beberapa jenis herbisida yang dapat digunakan untuk memberantas gulma dan rumput, antara lain adalah Actril DS, Ferninine 720 AS, Fusilade 25 EC, Roundoup. Saturin 500/50 EC, Lasso 480 EC, dan lain sebagainya.

2. Teknik Budi Daya Kacang Hijau di Lahan Sawah Tadah Hujan

Paket teknologi budidaya kacang hijau di lahan sawah tadah hujan adalah sebagai berikut

a. Penyiapan lahan

Penyiapan lahan untuk penanaman kacang hijau di lahan sawah tadah hujan tidak perlu dilakukan pengolahan tanah. Karena pengolahan tanah yang sempurna tidak memberikan perbedaan nyata terhadap hasil panen dibandingkan dengan pengolahan tanah minimum. Pengolahan lahan Cukup dilakukan dengan membuat bedengan dan parit-parit. Bedengan berukuran lebar 3-4 m dan panjangnya menurut panjang petakan kebun. Apabila petakan kebun sangat panjang sebaiknya panjang Dedengan maksimal 8 m. Sehingga dengan demikian akan memudahkan pembuangan air pada saat hujan. Bedengan memanjang ke arah Timur-Barat. Parit-parit dibuat dengan ukuran lebar 50 cm dengan kedalaman 50 cm. Parit-parit tersebut digunakan untUk saluran pembuangan air (draianse) pada saat nujan.

Selanjutnya bisa dilakukan pengapuran tanah apabila pH tanah kurang dari 5,8. Akan tetapi, apabila Ph tanahnya berkisar antara 5,8-6,5, maka tidak perlu dilakukan pengapuran, Cara pengapuran tanah dan dosis pengapuran dapat disimak kembali pada "sub bab Teknik Budi daya Kacang Hijau di lahan sawah beringasi leknis"

b. Inokulasi Rhizobium

Inokolasi Rhizobium dilakukan bila lahan yang akan ditanami kacang hijau belum pernah ditanami jenis tanaman kacang-kacangan. Inokolasi Rhizobium pada tanah dilakukan dengan cara menaburkan tanah yang berasal dari lahan pertanaman kacang-kacangan. Inokulasi Rhizobium dapat juga dilakukan pada benih yang akan ditanam. Benih diinokulasi dengan inokulum multiguna Rhizoplus dengan takaran 150 g/50 kg benih.

c. Penanaman dan desinfektan benih

Penanaman benih dapat langsung dilaKUKan setelah selesai mempersiapkan lanan. Benin ditanamn dengan sistem tugal atau menggunakan mesin penanam. Jarak tanam yang dianjurkan adalah 40 cm x 15 cm atau 50 cm x 10 cm, 20 cm x 20 cm atau 40 cm X 10 cm. Sedangkan waktu tanamnya adalah pada permulaan musim penghujan (Oktober-November) atau pada akhir musim hujan (Pebruari-Maret). Pada bulan-bulan tersebut merupakan Dulan-bulan yang agak kering, akan tetapi air tanah masin tersedia cukup. Benih dimasukkan ke dalam lubang tanam sedalam 3-4 cm dan setiap lubang tanam diisi 4 DIJ.

Benih yang telah ditanam kemudian didesinfektan dengan diberi Furadan pada lubang tanam atau disekitar lubang tanam dengan dosis 8 kg/ha atau 0,50 g/lubang tanam. Selesai penanaman dan desinfektan benih dilakukan penyiraman. Selanjutnya apabila benih telah tumbuh dan telah berumur 2 minggu setelah tanam, kemudian diperjarang menjadi 3 tanaman per lubang tanam atau per rumpun.

d. Pemberian Mulsa

Mulsa yang diberikan berupa jerami padi kering sebanyak 5 ton/ha. Pemberian mulsa dilakukan setelah benih kacang hijau ditanam. Caranya jerami padi ditaburkan secara merata setebal 3-5 cm dipermukaan tanah.

e. Penyulaman

Penyulaman benih dilakukan terhadap benih yang tidak tumbuh. Penyulaman hanya dilakukan saatu kali saja, yakni dilakukan 4-15 hari setelah tanam. Apabila benih yang tidak tumbuh melebihi 40%, maka semua benih harus diganti.

f. Pengairan

Tanaman kacang hijau tidak tahan kekeringan dan terhadap genangan air. Pemberian air yang cocok untuk pertanaman kacang hijau adalah air tanah dalam kapasitas lapang (tidak becek). Tanaman kacang hijau mulai mendenta kekeningan apabila tanah sedalam 5-10 cm telah kering.

Pemberian air secara iciran di lahan sawah tadan hujan dapat menaikkan hasil panen daripada tanpa pengairan. Penyiraman sebaiknya dilakukan dengan selang waktu yang panjang. Bila budi daya menggunakan tnuisa, penyiraman dilakukan dengan selang waktu 20 nari yang dimulai pada saat tanam sampai dengan fase pengisian polong.

Cara pemberian air pada pertanaman kacang hijau di lahan sawah tadah hujan dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  1. Penyiraman sistem irigasi tetes
    Penyiraman dengan sistem irigasi tetes adalah air dialirkan melalui selang-selang utama kemudian dialirkan ke setiap tanaman melalui selang-selang sekunder. Penyiraman dengan sistem irigasi tetes memerlukan bak penampungan air. Dari bak penampungan air tersebut kemudian dialirkan ke setiap tanaman melalui pipa-pipa atau selang.
  2. Penyiraman sistem curah
    Penyiraman sistem curah dilakukan dengan cara memercikan air sehingga seperti hujan buatan. Sistem ini menggunakan penyemprotan bertekanan tinggi.
  3. Penyiraman sistem gembor.
    Gembor merupakan alat penyiraman yang mempunyai mulut atau bagran ujung pipa berlubang lubang kecil, sedang dan agak besar. Penyiraman dengan Sistem gembor adalah air dimasukkan ke dalam gembor, kemudian air yang berada di dalam gembor disiramkan ke setiap tanaman. Untuk menyirami tanaman yang masil kecl, digunakan gembor yang bermulut halus (berlubang lubang kecil). Sedangkan untuk menyirami tanaman yang sudah besar, digunakan gembor yang berlubang sedang atau besar.

Sumber air yang digunakan untuk penyiraman kacang hijau di lahan sawah tadah hujan dapat berasal dari sumur-sumur ladang dan artetis.

g. Pemupuka

Pupuk yang diberikan berupa pupuk urea sebanyak 50 kg/ha, pupuk SP-36 sebanyak 125 kg/ha, dan pupuk Kcl sebanyak 50 kg/ha.

Pupuk urea, SP-36, dan Kcl dapat diberikan sebelum tanam atau diberikan bersamaan pada saat tanam, dan seluruh pupuk diberikan sekaligus. Sedangkan pemberian pupuk daun dilakukan beberapa tahap sebagaimana dijelaskan pada label kemasan pupuk daun yang digunakan. Pemberian pupuk urea, SP-36, dan Kcl dapat juga dibeikan secara bertahap sebagai berikut:

Pemupukan Pertama diberikan satu hari sebelum tanam atau pada saat tanam terdiri atas setengah dosis urea ditambah seluruh dosis SP-36 ditambah setengah dosis Kcl. Pemupukan Kedua diberikan 30 hari setelah tanam terdiri atas setengah dosis urea ditambah setengah dosis Kcl.

h. Penyiangan

Pada pertanaman kacang hijau di lahan sawah tadah nujan, adanya gulma dapat menurunkan hasil kacang hijau mencapai 60% lebih.

Pengendalian gulima dapat dilakukan secara paau, yaitu pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida pra tumbuh (Alachlor atau Metalachlor yang aIKombinasikan dengan penyiangan. Dari hasil penelitian Dahyar Nazemi, 1994, menyatakan bahwa pengendalian gulma menggunakan herbisida metalachlor yang dikombinasikan dengan penyiangan pada 21 hari setelah anam dapat menekan pertumbuhan gulma sebesar 45%

dibandingkan dengan hanya menggunakan herbisida metalachlor saja. Sehingga dengan demikian, pengendalian gulma yang mengkombinasikan dua cara pengendalian tersebut lebih efektif mengendalikan gulma di lahan sawah tadah hujan yang pada umumnya didominasi oleh gulma golongan rumput dan berdaun lebar dibanding dengan pengendalian salah satu cara saja.

Pengendalian gulma dengan herbisida metalachlor dilakukan 1 hari sebelum tanam dengan dosis 2 I/ha.

3. Teknik Budi Daya Kacang Hijau di lahan kering

Paket teknologi budi daya Kacang Hijau di lahan kering adalah sebagai berikut:

a. Lahan Kering Tanah Alfisol

Lahan kering jenis tanah alfisol ini tersebar di daerah pantai utara Jawa Timur, Madura bagian selatan, Bagian Selatan Yogyakarta, Wonogiri, Purwodadi, Cianjur, Sukabumi, dan Garut. Jenis tanah ini berwarna merah muda sampai agak tua, pH tanah sedikit netral sampa alkalin, mengandung sedikit unsur S dan Zn. Dengan teknik budidaya yang baik, potensi lahan kering tanah alfisol cukup besar untuk dikembangkan sebagai lahan pertamanan kacang hijau kering. Adapun paket teknik budi daya kacang hijau di lahan kering tanah alfisol adalah sebagai berikut:

1) Penyiapan lahan

Penyiapan lahan meliputi pekerjaan-pekerjaan pengolahan tanah, pembersihan lahan dari sisa-sisa tanaman sebelumnya, pemberian pupuk kandang sebanyak 5-10 ton/ha diberikan pada saat pengolahan tanah dan menjelang musim hujan, pembuatan bedengan dengan ukuran lebar 3-4 m dan panjangnya menurut panjangnya petakan kebun. Apabila petakan kebun panjang, maka sebaiknya panjang bedengan dibuat maksimal 8 m, dan pembuatan saluran pembuangan air (drainase) dengan kedalaman 30 - 40 cm dan lebar 40 cm.

2) Inokulasi Rhizobium

Inokulasi Rhizobium dilakukan bila lahan yang akan ditanami kacang hijau belum pernah ditanami tanaman kecang-kacangan. Inokulasi Rhizobium dilakukan dengan cara menaburkan tanah yang berasal dari lahan tanaman kacang-kacangan, atau benih diinokulasi dengan inokulum multiguna Rhizoplus dengan dosis 150 g/50 kg benih.

3) Penanaman benih

Waktu tanam kacang hijau yang tepat di lahan kering tanah alfisol adalah pada awal musim penghujan (bulan Oktober-November) dan pada akhir musim penghujan (bulan Pebruari-Maret).

Penanaman benih dilakukan dengan cara tugal atau dengan mesin penanaman dengan kedalaman tanam 3-4 cm. Tiap lubang tanam diisi 4 biji. Benih yang telah ditanam kemudian didesinfektan dengan diberi Furadan pada lubang tanam sebanyak 0,50 g/lubang tanam, Kemudian lubang tanam ditutup tanah. Selesai penanaman dilakukan penyiraman. Bila biji telah tumbuh kemudian diperjarang menjadi 3 tanaman per-lubang, jarak anam yang dianjurkan 40 cm x 20 cm atau 40 cm X 15 cm.

4) Pemberian Mulsa

Mulsa yang diberikan berupa jerami padi kering sebanyak 5-10 ton/ha. Pemberian mulsa dilakukan setelah benih kacang hijau ditanam dengan cara jerami padi ditaburkan secara merata setebal 3-5 cm dipermukaan tanah

5) Penyulaman

Penyulaman benih dilakukan sebagaimana yang telah dijelaskan pada tehnik budi daya kacang hijau di lahan sawah beririgasi teknis.

6) Pengairan

Pengairan dilakukan sebagaimana yang telah dijelaskan pada teknik budi daya kacang hijau dilahan sawah tadah hujan.

7) Pemupukan

Pupuk yang diberikan berupa pupuk urea sebanyak 60 kg/ha, pupuk SP-36 sebanyak 150 kg/ha, dan pupuk Kcl sebanyak 100 kg/ha, tergantung dari tingkat kesuburan tanahnya.

Pupuk urea, SP-36, dan Kcl dapat diberikan sebelum tanam atau diberikan bersamaan pada saat tanam dan seluruh pupuk diberikan sekaligus. Pemberian pupuk daun dilakukan beberapa tahap sebagaimana yang dijelaskan pada label kemasan pupuk daun yang digunakan. Pemberian pupuk urea, SP-36, dan Kcl dapat juga diberikan secara bertahap sebagai berikut:

Pemupukan Pertama diberikan satu hari sebelum tanam atau pada saat tanam terdiri atas setengah dosis urea ditambah seluruh dosis SP-36 ditambah setengah dosis Kcl.

Pemupukan Kedua diberikan 30 hari setelah tanam terdiri atas setengah dosis urea ditambah setengah dosis Kcl.

8) Penyiangan

Pengendalian gulma dilakukan dengan cara terpadu dengan mengkombinasikan cara kimiawi, menggunakan herbisida pra tumbuh (Aachlor atau metalachlor) dan dengan penyiangan pada umur 21 hari setelah tanam dan 42 hari setelah tanam.

b. Lahan Kering tanah ultisol

Lahan kering tanah ultisol adalah lahan kering podsolik merah kuning, Jenis tanah ini tersebar di daerah pulau Sumatra bagian barat mulai dari Sumatra barat, Bengkulu, Riau, Sumatra Selatan, dan sedikit di Lampung, Kalimantan (Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat), dan di Sulawesi tersebar di daerah Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan. Di Indonesia, luas lahan podsolik merah kuning diperkirakan mencapai luasan 20,9 juta hektar (Anonim, 1969). Jenis tanah ultisol pada umumnya pH tanah rendah, kandungan Al dan Mn tinggi, dan kandungan N, P, K, Ca rendah. Adapun pada teknik budi daya kacang hijau di lahan kering tanah ultisol adalah sebagai berikut:

1) Penyiapan lahan 

Tanah diolah dengan dibajak sebanyak dua kali, Selesai dibajak tanah diratakan, dan lahan dibersihkan dari sisa-sisa tanaman sebelumnya. Selanjutnya dibuat bedengan dengan ukuran 3-4 m dan panjangnya menurut petakan kebun. Apabila petakan kebun sangat panjang, maka sebaiknya panjang bedengan dibuat maksimal 8 m, dan pembuatan saluran drainase dengan kedalaman 30-40 cm dan lebar 40. cm.

Selesai pembuatan bedengan dan saluran drainase dilakukan pengapuran tanah, kapur yang diberikan adalah dolomit. Selain pengapuran tanah, dilakukan pemupukan tanah dengan pupuk kandang sebanyak 5 ton/ha. Kapur dolomit dan pupuk kandang disebarkan secara merata pada bedengan, lalu tanan dicangkul tipis-tipis agar kapur dan pupuk kandang bercampur merata dengan tanah.

2) Inokulasi RhizobIum

Inokulasi Rhizorbium dilakukan bila lahan yang akan ditanami kacang hijau belum pernah ditanami kacang-kacangan. Inokulasi Rhizobium dilakukan dengan cara menaburkan tanah yang berasal dari lahan tananaman kacang-kacangan atau benih diinokulasi dengan inokulum multiguna Rhizoplus dengan dosis 150 g/50 kg benih.

3) Penanaman Benih

Waktu tanam kacang hijau yang tepat dilahan kering ultisol adalah pada bulan Oktober-Januari dan Pebruar April. Penanaman pada musim kemarau tidak dianjurkan. Karena Curah hujan sangat rendah dan tidak mencukupl kebutuhan air tanaman kacang hijau.

Penanaman benih dilakukan dengan cara tugal atau  dengan mesin penanam. Kedalaman tanam 3-4 cm dan setiap lubang tanam disi 4 biji. Benih yang telah ditanam kemudian didesinfektan dengan diberi Furadan pada lubang tanam sebanyak 0,50 g per-lubang tanaman, kemudian lubang tanam ditutup tanah, selesai penanaman dan desinfektan benih, dilakukan penyiraman. Apabila benih telah tumbuh, kemudian diperjarang menjadi 3 tanaman per-lubang tanam. Jarak tanam yang dianjurkan 30 cm x 10 cm.

4) Pemberian Mulsa

Mulsa yang diberikan berupa jerami padi kering sebanyak 5 ton/ha. Pemberian mulsa dilakukan setelah benih kacang hijau ditanam dengan cara jerami padi ditaburkan secara merata setebal 3-5 cm dipermukaan tanah.

5) Penyulaman

Penyulaman benih dilakukan sebagaimana yang telah dijelaskan pada teknik budi daya kacang hijau di lahan tanah beririgasi teknis.

6) Pengairan

Biasanya tidak dilakukan pengairan/penyiraman, karena curah hujan sudah mencukupi. Pengairan diperiukan bila kondisi sangat kering. Cara melakukan penyiraman sebagaimana yang telah dijelaskan pada teknik budi daya kacang hijau di lahan sawah tadah hujan.

7) Pemupukan

Pupuk yang diberikan pupuk urea sebanyak 100 kg/ha, pupuk SP-36 sebanyak 180 kg/ha, dan pupuk Kcl sebanyak 100 kg/ha.

Pupuk urea, SP-36, dan Kcl dapat diberikan sebelum tanam atau diberikan 1 minggu setelah tanam dan seluruh pupuk diberikan sekaligus. Sedangkan pemberian pupuk daun dilakukan beberapa tahap sebagaimana yang dijelaskan pada label kemasan pupuk daun yang digunakan. Pemberian pupuk urea, SP-36, dan Kcl dapat juga diberikan secara bertahap sebagai berikut:

Pemupukan Pertama diberikan satu hari sebelum tanam atau pada saat tanam terdiri atas setengah dosis urea ditambah seluruh doSIs SP-36 ditambah setengah dosis Kcl.

Pemupukan Kedua diberikan 30 hari setelah tanam terdiri atas setengah dosis urea ditambah setengah dosis Kcl

8) Penyiangan

Pengendalian gulma dilakukan secara terpadu dengan mengkombinasikan cara kimiawi menggunakan herbisida pra tumbuh (Alachlor atau Metalachlor) dan dengan penyiangan pada umur 21 hari setelah tanam dan 42 hari setelah tanam.

4. Teknik Budi Daya Kacang Hijau di Lahan Pasang Surut Sulfat Masam

Lahan pasang surut sultat masam merupakan lanan yang kurang subur. Lokasi ini dicirikan oleh kemasaman tanah yang tinggi (pH tanah sekitar 4,0), tingginya kandungan Al, Fe, dan Mn yang bersifat racun bag tanaman, kandungan P. K, Ca, Mg dan unsur hara mil lainnya dalam tanah rendah, tanah sering mengandung gambut, dan kadar bahan organik yang cukup tinggi. Lahan yang kurang subur ini dapat ditingkatkan produktifitasnya bila ditangani dengan teknologi yang tepat. Dengan paket teknik budi daya yang tepat, potensi lahan pasang surut sulfat masam ini dapat menghasilkan 1,22 ton biji kering per hektar (Khairil Anwar,1994).

Lahan pasang surut sulfat masam banyak tersebar didataran rendah pantai Sumatra Selatan, dan Irian Jaya. Adapun paket teknologi budi daya kacang hijau di lahan pasang surut sulfat masam adalah sebagai berikut:

a. Penyiapan lahan

Pengolahan tanah cukup dilakukan secara ringan, yakni tanah dibajak sekali, kemudian dilakukan pengapuran tanah dengan menggunakan kapur dolomit. Untuk menaikan pH tanah sebanyak 0,1 diperlukan kapur dolomit sebanyak 312 kg/ha. Apabila pH tanah pada lahan sulfat masam sekitar 6,0, maka untuk menaikan pH tanah menjadi sekitar 6,0 diperlukan kapur dolomit sebanyak 6,25 ton/ha. Agar dosis kapur yang diberikan tepat, sebaiknya dilakukan pengukuran pH tanah terlebih dahulu. Pengapuran pada lahan pasang surut sultat masam akan menetralisir pengaruh ion Al sehingga hara P yang terikat dalam bentuk A-P akibat terfiksasinya ion fosfat (P) menjadi bentuk Al-P yang tidak larut akan terlepas dan menjadi bentuk yang tersedia bagi tanaman. Di samping itu pengapuran tanah juga akan meningkatkan Pri tanah, ketersediaan hara, menurunkan Konsentrasi unsur-unsur yang bersifat racun, dan memperbaiki Serapan hara P, K, Ca, Mg, dan Mo oleh tanaman.

Pengapuran tanah dilakukan dengan cara kapur disebar secara merata pada permukaan tanah, kemudian tanah dicangkul tipis-tipis agar kapur bercampur rata dengan tanah. Selesai pengapuran, tanah dibiarkan selama 15 hari.

Setelah dua minggu, dicangkul tipis-tipis lagi sekaligus diratakan. Kemudian dibuat bedengan bedengan dan parit-parit. Bedengan dibuat dengan ukuran lebar 3-4 meter dan panjang menurut panjang petakan kebun. Apabila petakan kebun sangat panjang, sebaiknya panjang bedengan maksimial8 m agar pembuangan air lebih mudah pada saat lahan terluapi air pada waktu pasang. Bedengan memanjang ke arah Timur-Barat. Sedangkan parit-parit dibuat dengan lebar 50 cm dengan kedalaman 80 cm.

b. Inokulasi Rhizobium

Pada lahan yang belum pernah ditanami Kacaiig hijau atau jenis kecang-kacangan dianjurkan melakukan InokulasI Rhizobium dengan inokulum multiguna Rhizoplus dengan dosis 3,7 mg/kg benih atau 150 g/50 kg benih atau dengan cara menaburkan tanan yang berasal dari lahan bekas pertanaman kacang hijau atau jenis tanaman kacang-kacangan lainnya. Indokulasi Rhizobium dapat meningkatkan hasil panen kacang hijau dibanding tanpa inokulasi RhizobIum mengingat lahan ini kandungan N-nya sangat rendah.

c. Penanaman Benih

Waktu tanam kacang hijau yang tepat dilahan pasang surut sulfat masam adalah pada periode Maret sampai dengan Juli/Agustus. Setelah tanaman padi yang ditanam pada musim hujan dari bulan Oktober sampai dengan Pebruari.

Penanaman benih dengan cara tugal atau dengan mesin penanam. Benih ditanam dengan kedalaman 3-4 cm, jarak tanam 30 cm x 10 cm, dan setiap lubang tanam diisi 4 biji. Benih yang telah ditanam kemudian didesinfektan dengan diberi Furadan pada lubang tanam sebanyak 0,50 g per lubang tanam, kemudian lubang ditutup tanah. Selesai penanaman dan desinfektan benih, dilakukan penyiraman. Apabila benih telah tumbuh dan telah berumur 2 minggu setelah tanam, kemudian diperjarang menjadi 3 tanaman per-lubang atau per-rumpun.

d. Pemberian mulsa

Pemberian mulsa berupa jerami padi kering sebanyak 5 ton/ha dilakukan setelah benih ditanam. Jerami padi ditaburkan secara merata setebal 3-5 cm dipermukaan tanah.

e. Penyulaman

Penyulaman benih dilakukan terhadap benih yang tidak tumbuh. Penyulaman hanya dilakukan satu kali saja, yakni dilakukan 4-15 hari setelah tanam. Apabila benih yang tidak tumbuh melebihi 40%, maka semua benih harus diganti dan penyiapan lahan serta seleksi bibit dilakukan yang lebih baik lagi.

f. Pemupukan

Kebutuhan pupuk dilahan pasang surut sulfat masam cukup beragam, tergantung daripada tipe lahan. Di lahan sulfat masam tipe B, takaran pupuk NPK yang dianjurkan adalah 45 kg N, 90 kg PO, dan bU kg K,o per-hektar (Khairil Anwar, 1994). Apabila menggunakan pupuk urea, SP-36, dan Kcl, maka takaran pupuk urea = 100 kg/ha, SP-36 200 kg/ha, dan Kcl = 100 kg/ha Setengah takaran pupuk urea dan semua takaran pupuk SP-36 dan pupuk Kcl diberikan sekaligus secara larik dengan jarak 10 cm dari baris tanaman pada saat tanam, sedangkan takaran pupuk urea sisanya diberikan pada umur 30 hari setelah tanam.

Pemberian pupuk daun dilakukan beberapa tahap sebagaimana yang dijelaskan pada label kemasan pupuk yang digunakan.

g. Penyiangan

Pengendalian gulma pada pertanaman kacang hijau di lahan pasang surut sulfat masam dilakukan dengan mengkombinasikan cara kimiawi menggunakan herbisida pra tumbuh Alachlor dengan dosis 480 g/ air dan penyiangan 1 kali pada umur 30 hari setelah tanam. Herbisida pra tumbuh diberikan 1-3 hari sebelum tanam. Penyiangan secara manual menggunakan koret (cangkul kecil). Penyiangan dapat juga iakukan secara mekanik dengan menggunakan peralatan nesin, salah satu alat mekanik penyiang guima yang ana adalah alat penyiang lahan kering (cono weeder).


HAMA DAN PENYAKIT KACANG HIJAU

Produktivitas tanaman kacang nijau dapat menurun bila tanaman diserang hama dan penyakit. Penurunan produksi yang diakidatkan Olen serangan hama dan penyakit dapat ditekan sekecil mungkin dengan melakukan pengendalian yang intensif dan teratur dari mulai tanam sampai dengan tanaman menjelang panen Pada umumnya hama yang menyerang tanaman kacang hijau dari golongan serangga. Sedangkan penyakit yang sering dijumpai menyerang tanaman kacang hijau dari golongan jamur (cendawan), bakteri, dan virus. Hama-hama dan penyakit perusak polong dapat menyebabkan kehilangan hasil sampai 60%, bahkan pada tingkat serangan yang sangat berat menyebabkan tanaman tidak berproduksi.

A. Hama Tanaman kacang hijau

Hama-hama penting yanng menyerang tanaman kacang hijau diketahui ada 15 species hama serangga, yaitu hama yang ditemukan pada batang adalah lalat bibit (Ophiomyia Phaseoli Tryion), lalat kacang (Melanagromyza Sojae Zehntner), hama yang ditemukan menyerang daun adalah kutu (Aphis Craccivora Koch), Kumbang tanah (Longitarsus Sp), ulat grayak (Spodoptera Litura F), ulat jengkal (Plusia Chalcites), ulat penggulung daun (Lamprosema Indicata F), belalang (Oxyia Spp), wereng daun (Bemisia Tabaci Genn), wereng (Empoasca Sp), dan hama yang ditemukan menyerang polong adalah pengisap polong. yaitu kepik hijau (Nezara Viridula L), pengisap polong (Piezodorus Hypnen), dan kepik coklat (Riptortus Linearis F), penggerek polong, yaitu penggerek polong (Maruca Spp), Heliothis Armigera Hubner, dan Etiella Spp.

1. Lalat Bibit (Ophiomyia Phaseoli Tryion)

Pencegahan dan pengendalian lalat kacang dappat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :

  • Denanaman serempak, yaltu penanaman dalam satu hersamaan. Sehingga dengan demikian, kerusakkan vang ditimbulkan oleh lalat ini tidak sampai pada hamparan yang luas dengan waktu tanam yang yang ditimb kerusakan yang melampaui batas ambang ekonomi. Karena perbandingan jumlah makanan jauh lebih banyak dengan ulat yang menyerangnya.
  • Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya. Tanaman inang lalat kacang, antara lain kedele, kacang tanah, kacang panjang, buncis, dan jenis kacang-kacangan lainnya.
  • Penanaman menggunakan sistem mulsa plastik hitam perak atau mulsa jerami padi.
  • Desinfektan benih menggunkan insektisida berbahan aktif karbosulfan, misalnya Marshal 25 ST, Marshal 200 EC, Marshal 10 CG, atau Marshal 5 G, desinfektan tanah dengan insektisida berbahan aktif karbofuran, misalnya Furadan 3 G, Petrofur 3 G, Tomafur 3 G
  • Penyemprotan dengan menggunakan insektisida berbahan aktif Cypermethrin, misalnya Crowen 113 EC, berbahan aktif isoKsation, misalnya KarphoS 26 EC, berbahan aktif Klorfluazuron, misalnya Atabron 50 EC, Atabron 25 ULV, berbahan aktif Klorpirifos, misalnya Dursban 20 EC, Lentrek 400 EC, Petroban 200 EC, Profos 400 EC.

2. Lalat Kacang (Melanogromyza Spp)

Pencegahan dan pengendalian lalat kacang dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • Budi daya menggunakan mulsa jerami. Sehingga dengan demikian lalat tidak bisa masuk atau bertelur pada keping-keping biji.
  • Mencabut tanaman yang terserang berat, lalu membakarnya.
  • Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya. Tanaman inang lalat kacang, antara lain buncis, kedele, kacang hijau, kacang gude, kacang panjang, padi, jagung.
  • Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas.
  • Penyemprotan dengan insektisida berbahan aktir Cypermethrin, misalnya Crowen 113 EC, berbahan aktif Imidakloprid, misalnya Confidor 200 SL, Confidor 5 WP, Premise 200 SL, berbahan aktif Sipermetrin, misalnya Arrivo 30 EC, Cymbush 50 EC, Crown 100 EC, Bravo 50 EC.
  • Desinfektan benih menggunakan insektisida berbahan aktif karbosulfan, misalnya Marshal 25 ST, Marshal 200 EC, Marshal 10 CG, Marshal 5 g: Desinfektan tanah dengan insektisida berbahan aktif karbofuran, misalnya Furadan 3 G, Petrofur 3 G Tomafur 3 G.

3. Kepik Hijau (Neraza Viridula L)

Pencegahan dan pengendalian kepik hijau (vazara VIsIdula) dapat dilakukan dengan cara-cara sepaga berikut:

  • Sanitasi kebun, yaitu membersihkan kebun dari rumput dan gulma, serta sisa-sisa tanaman mati.
  • Dengan menyebarkan musuh alaminya, misalnya Anastatus Sp, Gryon sp, Ooencyrtus malayensis, atau Talenomus sp. yang dapat memangsa telur kepik hijau.
  • Memangkas daun yang mernjadi sarang telur, kemudian dikumpulkan dan dibakar.
  • Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya. Tanaman inang kepik hijau adalah kacang-kacangan, padi, kapas, jeruk, tembakau, kentang cabe.
  • Penyemprotan dengan insektisida, misalnya Zolone 35 EC, Corsair 10 EC, Surecide 25 EC, Matador, Crowen 113 EC.
  • Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas.

4. Kepik Coklat (Riptortus linearis L)

Pencegahan dan pengendalian kepik coklat (Riptortus linearis.L) dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • Sanitasi kebun.
  • Penanaman serempak, yaitu penanaman dalam satu hamparan yang luas dengan waktu tanam bersamaan. Dengan demikian kerusakan yang ditimbulkan oleh kepik coklat tidak sampai pada kerusakan yang melampaui batas ambang ekonomi, karena perbandingan jumlah makanan jauh lebih banyak dengan kepik coklat yang menyerangnya.
  • Pergiliran tanaman dengan tanaman yang Dukan inangnya. Tanaman inang kepik coklat adalah kacangan-kacangan.
  • Menangkapi kepik pada pagi hari antara jam 06.00-09.00 WIB, lalu membunuhnya.
  • Penyemprotan dengan insektisida, misalnya Zolone 35 EC, Surecide 25 EC, Corsair 10 EC, Marshal 20 EC, Crowen 113 EC, Mipcin 50 WP (insektisida berbahan aktif Josalon, Pemetrin, Karbosulfan, Cypermethrin).

5. Ulat Jengkal (Plusia Chalcites Esper/Chrysodeixis Chalcites Esper)

Pencegahan dan pengendalian ulat jengkal dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • Sanitasi kebun.
  • Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya. lanaman inang ulat jengkal adalah kacang-kacangan, kentang, tembakau, kubis.
  • Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas.
  • Memunguti ulat, lalu membunuhnya.
  • Memotong daun yang menjadi sarang telur, kemudian dikumpulkan dan dibakar.
  • Dengan menyebarkan musuh alaminya, misalnya Apanteles sp atau Litomastik sp.
  • Penyemprotan dengan insektisida, misalnya Decis 2,5 EC, Cymbush 50 EC, Curacron 500 EC (insektisida berbahan aktif Sipermetrin, profenofos)

6. Ulat Grayak (Spodoptera litura/Prodenia litura)

Pencegahan dan pengendalian ulat grayak dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • Dengan penggenangan sesaat akan membunuh ulat yang berada di dalam tanah, genangan air menyebabkan ulat tidak dapat bernafas dan mati.
  • Sanitasi kebun
  • Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas.
  • Memangkas daun yang menjadi sarang telur, kemudian dikumpulkan dan dibakar.
  • Dengan menyebarkan musuh alaminya, seperti Bacillus thuringiensis, Borrelinavirus litura.
  • Memunguti ulat, lalu membunuhnya.
  • Menangkap kupu-kupunya dengan menggunakan perangkap lampu minyak yang dibagian bawahnya diberi baskom yang berisi air dan minyak tanah.
  • Pengolahan tanah yang intensif dapat membunuh kepompong dan ulat yang bersembunyi di dalam tanah.
  • Degan penyemprotan insektisida, misalnya Curacron O0 EC, Matador, Decis 2,5 EC, Catleya 500 EC urex WP atau Crowen 113 EC (insektisida berbahan Ktf Profenofos, Lamida Sihalotrin, Deltametrin, Cypermethrin, Bacillus Thuringiensis Varietas Aizawai Strain GC 91).
  • Dengan menggunakan perangkap feromoid sex. (sex pheromone). Misalnya dengan ugratas biru yang dipasang dalam botol plastik volume 500 ml atau 1000 ml, untuk lahan seluas 1 hektar tanaman Kacang Hijau dapat dipasangi 15 botol.

7. Ulat Penggerek Polong (Etiella zinckenella)

Pencegahan dan pengendalian ulat polong (Etiella zinckenella). Dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • Pengolahan tanah yang intensif dapat membunuh kepompong yang berada di dalam tanah.
  • Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas.
  • Polong yang terserang ulat dipangkas, kemudian dikumpulkan dan dibakar.
  • Pergliran tanaman dengan tanaman selain tanaman kacang-kacangan.
  • Penyemprotan dengan menggunakan insektisida berbahan aktif BPMC, Sipemetrin, Klortiluazuron, misalnya Cymbush 50 EC, Boyrusil 250 EC, Atabron 50 EC, Bassa 500 EC, Dimaside 400 EC. Penyemprotan dilakukan pada waktu pembentukan polong9.

8. Ulat Polong (Helicoverpa armigera hubn)

Pencegahan dan pengendalian ulat polong dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya. Tanaman inang ulat ini adalah jagung, kentang, asparagus, tomat, buncis, terung, tembakau, kapas, kacang-kacangan, tanaman sayuran.
  • Memetik polong yang telah diserang ulat dan dihancurkan.
  • Sanitasi kebun.
  • Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas.
  • Memunguti ulat dan kepompong, lalu membunuhnya.
  • Dengan menyebarkan musuh alaminya, seperti Microplitis manilae (pemakan kepompong dan ulat Diadegma argentiopilosa (pemakan ulat). Trichogramma mana dan Trichogramma evarescens (pemakan telur)
  • Penyemprotan insektisida, misalnya Bayrusil 250 E. Sumicidin 5 EC, Decis 2,5 EC, Curacron 500 E Ambush 2 EC, Fenveal 200 EC, Crowen 113 E Turex WPP

9. Ulat Penggulung (Lamprosema indicata)

Pencegahan dan pengendalian ulat penggulung daun (Lamprosema indicata) dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya. Tanaman inang ulat Lamprosema indicata adalah kacang-kacangan (buncis, kacang tanah, kacang hijau, kacang hijau, kapri, kacang panjang, kacang gude).
  • Penanaman serempak dalam satu hamparan lanan yang luas
  • Memangkas daun-daun yang terserang, dan daun yang ada telurnya dibakar.
  • Penyemprotan dengan insektisida, misalnya Nogos 50 EC Ambush 2 EC, Crowen 113 EC, Matador 25 EC.
  • Menyebarkan musuh alaminya berupa parasitoid larva seperti Apanteles sp.

10. Kutu

Pencegahan dan pengendalian nama kutu dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • Pergiliran tanaman dengan tanaman Dukan inangnya,
  • Penanaman serempak dalam satu namparan lahan yang luas.
  • Memangkas daun-daun atau bagian-bagian tanaman yang terserang dan menjadi sarang telur kemudian dikumpulkan dan dibakar.
  • Penyemprotan dengan insektisida, misalnya Monitor 200LC, Mitac 200EC, Applaud 10WP, Curacron 500 EC, Supracide 40 EC, Talsar 25 EC, Bestox 50 EC, Dicarzol 25 SP, Pegasus 500 SC.

11. Kumbang Daun (Phaedonia inclusa stal)

Pencegahan dan pengendalian kumbang daun dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya. Misalnya jagung, ubi-ubian.
  • Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas.
  • Memangkas daun yang menjadi sarang telur hama ini.
  • Penyemprotan dengan insektisida, misalnya Surecide 25 EC,Decis 2,5 EC, Corsair 100 EC, Cymbush 50 EC, Korphos 25 EC, dan lain sebagainya. Penyemprotan dilakukan setelah tanaman berumur 3 minggu.

12. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon hufn)

Pencegahan dan pengendalian ulat tanah dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya. Tanaman inang ulat tanah adalah tomat, kacang-kacangan, cabe, tomat, kentang, labu-labuan (melon, labu siam, pare, dan lain-lain), tembakau, wortel, terung.
  • Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas.
  • Menangkap ulat pada sore hari dan membunuhnya.
  • Membersihkan sisa-sisa tanaman mati yang dapat menjadi sarang kupu-kupu, kemudian dikumpulkan dan dibakar.
  • Penggenangan air sesaat pada pagi hari dan sore hari dapat membunuh ulat yang berada di dalam tanah.
  • Memangkas daun yang telah menjadi sarang telul, kemudian dikumpulkan dan dibakar.
  • Pengolahan tanah yang intensif.
  • Menyebarkan musuh alaminya berupa parasitoid ulat, seperti Apanteles sp, Tritaxys brauei, dan Cuphocera varia, atau berupa jamur patogen, seperti Botrytis sp atau Metarrhizium sp
  • Menggunakan perangkap dengan umpan yang terdiri atas campuran Dipeterx 95 SL, dedak, gula merah, dan air. Dosis untuk 1 hektar lahan adalah 250 g-5000g Dipeterx 95 SL, 20 kg dedak, 1-2 kg gula merah, dan 20 liter air.
  • Penyemprotan dengan insektisida, misalnya Hostathion 40 EC, Matador 25 EC, atau Furadan 3G, atau Darmafur 3 G. Penggunaan Furadan 3G dan Darmafur 3 G dilakukan dengan cara dipendam dalam tanah.

13. Hama Lain

Pencegahan dan pengendalian ulat pelipat daun ulat keket, belalang kayu, dan ulat penggerek polong dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya. Tanaman inang hama-hama tersebut adalah tanaman kacang-kacangan.
  • Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas
  • Menangkapi ulat, dan membunuhnya.
  • Sanitasi kebun, yaitu membersihkan sisa-sisa tanaman mati, kemudian dikumpulkan dan dibakar.
  • Penyemprotan menggunakan insektisida Decis 2,5 EC, Ambush 2EC, Fenval 200 EC, Atabron 50EC, Dimilin 25 WP
  • Menanam varietas yang tahan.

B. Penyakit Tanaman Kacang Hijau

1. Bercak Daun Cercospora

Pencegahan dan pengendalian bercak daun CercospOra dapat dilakukan denga cara-cara sebagai berikut:

  • Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya. Tanaman inang cendawan Cercospora, antara lain kara, kacang panjang, kacang bogor.
  • Menanam varietes-varietes yang tahan penyakit bercak daun Cercospora, misalnya varietes walet, Nuri, Manyar, dan lain sebagainya.
  • Sisa-sisa tanaman sakit dibakar.
  • Penyemprotan dengan fungsida berbahan aktif Benomyl, misalnya Benlate, Agrosid 50 SD, Masulgin 50 WP; Maneb, misalnya velimek 80 WP, Phycozan 70 WP, Pilaram 80 WP, dan lain sebagainya.

2. Kudis

Pencegahan dan pengendalian penyakit kudis dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • Menanam varietas yang tahan, yaitu jenis-jenis kacang hijau yang berbulu dan berbatang rebah. Misalnya, Nuri, Camar, dan lain sebagainya.
  • Tanaman yang sakit berat dicabut dan dibakar.
  • Sanitasi kebun.
  • Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan kacang-kacangan Penyemprotan dengan fungisida berbahan aktif Tiofanat Metil (Topsin M 70 WP); berbahan aktif Benomy! (Agrosid 50 SD, Benlate, Masalgin 50 Wp), berbahan aktif karbondazim ( Bavistin 50 WP, Derosal 500 EC, Hylite 150 EC, Defence 200/130, atau Derosal 60 WP) sangat efektif untuk mengendalikan penyakit kudis.

3. Penyakit Embun Tepung (Powdery Mildew)

Fencegahan dan pengendalian penyakit emou tepung dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut

  • Menanam varietas yang tahan, misalnya Parkit, vvalet, Merpati, Mungo. 
  • Tanaman yang terinfeksi berat dicabut dan dibakar.
  • Sanitasi kebun.
  • Sisa-sisa tanaman dibakar atau ditimbun ke dalam tanah.
  • Penyemprotan dengan fungisida berbahan aktif benomyl, misalnya Benlate, Agrosid 50 SD, berbahan aktif Dinokap, misalnya Karathame 19,5 WP, berbahan aktif Fenarimol, misalnya Rubigan 120 EC, atau yang berbahan aktif tembaga hidroksida, misalnya Kocide 80 AS, Kocide 77 WP, Fungaran 80 WP, Champion 77 WP

4. Penyakit Bercak Coklat (Antraknosa)

Pencegahan dan pengendalian penyakit antraknosa dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut

  • Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan dari jenis kacang-kacangan.
  • Tidak dianjurkan menanam kacang hijau secara berturut-turut.
  • Menanam dengan jarak tanam yang lebih lebar.
  • Menanam biji yang sehat.
  • Membersihkan sisa-sisa tanaman mati, kemudian dikumpulkan dan dibakar.
  • Mencabut tanaman yang sakit berat dan membakarnya.
  • Penyemprotan dengan fungisida berbahan aktif benomil (Masalgin 50 Wp, Benlate).

5. Penyakit Karat Daun

Pencegahan dan pengendalian penyakit karat daun dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan dari jenis kacang-kacangan.
  • Menanam varietas yang tahan penyakit karat, misalnya varietas Manyar dan Nuri.
  • Mencabut tanaman yang sakit parah, kemudian dikumpulkan dan dibakar.
  • Sanitasi kebun.
  • Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas.
  • Penyemprotan dengan fungisida berbahan aktif Klorotalonil (Agrisan 60 WP, Daconil 500 F, Oktanil 75 WP), berbahan aktif Maneb (Rhoneb 80 Wp, Redhos WP, Velimek 80 WP, Phycozan 70 WP, Trineb 80 WP), berbahan aktif Zineb (Tropicol 82 WP, Tiezone 80 WP, Rhedos 70/12WP), atau yang berbahan aktif Oksikarboksin (Plantvax 190 EC).

6. Penyakit Bercak Sclerotiumn

Pencegahan dan pengendalian penyakit layu SClerotium dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • Pengolahan tanah yang intensif (sempurna).
  • Perbaikan drainase (pengeluaran air).
  • Penanaman dengan jarak tanam lebih lebar.
  • Mencabut tanaman yang sakit, lalu membakarnya.
  • Fumigasi tanah dengan Basamid 3G.
  • Menyiram larutan fungisida di sekitar batang tanaman. Misalnya, Anvil 50 SC, Derosal 60 WP Benlate, dan lain sebagainya.
  • Penyemprotan fungisida yang berbahan aktif mankozeb 80%, tembaga oksiklorida 59,5%, atau karbendazim 6.2% +mankozeb 73.8%.
  • Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya.
  • Merendam benih dengan Agrimycin atau Agrept selama 5-15 menit.
  • Menanam benih yang sehat.
  • Mensterilkan peralatan yang akan dipergunakan ke dalam larutan formalin selama 10 menit atau dipanaskan dengan api selama beberapa menit.
  • Menggunakan pupuk kandang yang baik.

7. Penyakit Bisul Daun (Penyakit Bakteri)

Pencegahan dan pengendalian penyakit bisul daun dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan dari jenis kacang-kacangan.
  • Menanam benih yang sehat.
  • Menanam varietas yang tahan terhadap penyakit bisul daun.
  • Menimbun atau membakar sisa-sisa tanaman sakit atau sisa-sisa tanaman setelah panen.
  • Memangkas daun-daun yang terserang, kemudian dikumpulkan dan dibakar.

8. Penyakit Mozaik

Pencegahan dan pengendalian penyakit mosaik dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • Menanam benih yang sehat dari tanaman yang sehat.
  • Tanaman yang sakit dicabut dan dibakar.
  • Pergiliran tanaman dengan tanaman selain kacang- kacangan.
  • Mengendalikan serangga vektor (serangga penular)
  • Dengan penyemprotan insektisida.

9. Penyakit Sapu (Witches Broom)

Pencegahan dan pengendalian penyakit sapu dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut

  • Penanaman kacang hijau bertutut-turut harus dihindari.
  • Pergiliran tanaman dengan tanaman selain kacang- kacangan.
  • Mencabut tanaman yang sakit dan membakarnya.
  • Sanitasi kebun.
  • Mengendalikan serangga penular dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif Karbofuran (Furadan 3 G, Taburan 3 G, Curaterr 3 G), berbahan aktif Fenobcarb (Bassa 500 EC, Baycarb 500 EC, Dharmabas 500 EC, Karbasin 500 EC)

10. Penyakit Fisiologis

Penyakit fisiologis merupakan penyakit yang disebabkan oleh kekurangan dan kelebihan zat-zat hara, adanya zat-zat beracun, dan kondisi tanah yang masam maupun salin. Beberapa penyakit fisiologis di antaranya adalah:

a. Kekurangan dan kelebihan nitrogen

Tanaman kacang hijau yang kekurangan zat hara nitrogen tampak pucat, daun-daun sempit, daun gugur dimulai dari daun-daun tua, dan akhirnya tananman kerin9. Kelebihan nitrogen menyebabkan tanaman tumbuh terlalu subur, daun berwarna hijau tua, perkembangan akar kurang baik, pertumbuhan bintil akar terhambat, daun salah bentuk, diantara tulang daun berwarna kekuningan, dan tanaman mudah layu.

b. Kekurangan Fosfat

Tanaman kacang hijau yang kekurangan fosfat tumbuh kerdil, daun berukuran kecil, daun berwarna hijau tua, daun-daun yang lebih tua menunjukkan gejala klorosis, yaitu bercak-bercak kuning pada daun, daun gugur sebelum waktunya, pembentukan bunga dan buah terhambat, biji kecil-kecil, akar tidak terbentuk sempurna, dan bintil akar tidak terbentuk.

c. Kekurangan Kalium

Tanaman kacang hijau yang kekurangan kalium tampak pada daun tua menunjukkan gejala klorosis yang dimulai pada tepi daun. Selanjutnya gejala kloroSis akan meluas sampai mendekati pangkal daun dan juga tampak gejala korosis pada daun muda. Dalam keadaan yang narah, timbul nekrosis (matinya jaringan) dan daun gugur. Tanaman yang kekurangan kalium juga akan mudah layu.

d. Kekurangan dan kelebihan kalsium

Tanaman yang kekurangan kalsium menunjukkan gejala daun-daun pucuk bentuknya tidak normal dan kadang-kadang keriting. Gejala ini sepintas mirip sekali dengan gejala serangan virus, kelebihan kalsium dapat menyebabkan tanaman kekurangan kalium, besi, boron, seng, tembaga dan mangan.

e. Kekurangan magnesium

Tanaman yang kekurangan magnesium pada awalnya timbul gejala klorosis interveinal pada daun tua. Bercak kuning berawal pada pinggir daun yang kemudian berangsur-angsur masuk ke dalam, tetapi tulang-tulang daun tetap hijau. Dalam keadaan yang parah, daun gugur sebelum waktunya dan tanaman terhambat pertumbuhannya.

f. Kekurangan dan keracunan zat besi

Tanaman yang kekurangan zat besi, daun daun pucuk berukuran kecil-kecil, berwarna kuning pucat sampai hampir putih. Dalam keadaan yang parah, warna hijau pada tulang-tulang daun yang halus tidak tampak lagi. Tanaman yang keracunan zat besi, menampakkan gejala tanaman terhambat pertumbuhannya, pada daun terdapat bercak-bercak coklat tua. Pada kondisi yang parah daun menjadi berwarna kecoklatan dan terjadi nekrosis (matinya jaringan) pada tepi daun, dan akhirnya daun terbentuk menyerupai mangkok.

g. Keracunan Mangan

Tanaman yang keracunan mangan, pada daun tua terdapat bercak-bercak coklat kehitaman di sepanjang tulang daun. Selanjutnya gejala ini akan dikuti oleh gejala klorosis.

h. Keracunan Aluminium

Gejala awal tanaman yang keracunan aluminium umumnya tampak pada akar, yakni akar tidak dapat tumbuh dengan baik, percabangan akar tidak normal,  pendek, dan akar mengalami perubahan warna. Pada keadaan yang parah, akar terhenti pertumbuhannya. Akibatnya, timbul klorosis di antara tulang daun dan daun muda. Tulang daun tetap berwarna hijau, tanaman tumbuh kerdil dan daun berbentuk menyerupai mangkuk.

i. Kekurangan dan keracunan Boron

Tanaman yang kekurangan boron adalah daun pucuk kecil-kecil dan tebal yang kemudian terjadi mati pucuk. Sedangkan tanaman yang keracunan boron adalah pada daun-daun tua terjadi adanya bercak-bercak klorosis yang dimulai dari ujung dan tepi daun. Bercak kemudian menjalar ke arah tulang daun utama. Kemudian, pada ujung dan tepi daun terjadi nekrosis, seluruh daun akhirnya menguning dan gugur. Bila tanaman dicabut akar tampak rusak dan mati.

****************

Sekian pembahasan yang dapat saya berikan seputar materi Budidaya Kacang Hijau. Semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk para pembaca dan dapan menjadi refrensi dalam membudidayakan Kacang Hijau. Dan saya juga ingin memohon Maaf apabila ada salah dalam penulisan maupun penyampaian bahasa, semoga dapat dimaafkan. sekian dari artikel ini sampai jumpa di artikel berikutnya.
Dwi Oni
Dwi Oni Hallo, Nama Saya Oni Dwi Junaedi, Saya Blogger Asal Pemalang. Saya memulai kegiatan Bloger sejak tahun 2018. Semoga Blog ini dapat terus berkembang.

2 comments for "Budidaya Kacang Hijau"

  1. Ingin tahu bagaimana perkembangan fashion kekinian para remaja ? saat ini fashion yang sedang berkembang yaitu fashion hypebeast dan 90' fashion lho

    ReplyDelete
  2. Buat kamu yang sedang berada di Kalimantan Barat dan sedang mencari alat alat kesehatan di bengkayang, tenang saja, kamu bisa berbelanja alat kesehatan di Distributor Alat Kesehatan Bengkayang

    ReplyDelete